Posted by: moes | August 5, 2008

Rekaman Blackbox Adamair dan Cerita dibalik Kecelakaan Pesawat

Beberapa hari ini, media masa dan elektronik gencar memberitakan bocornya rekaman percakapan pilot, co-pilot dan operator manara bandara, beberapa saat sebelum pesawat jatuh di perairan majene, sulawesi. Rekaman tersebut menyebar dengan sangat cepat melalui media internet. Pemerintah dalam hal ini departemen perhubungan dan juga komisi nasional keselamatan transportasi (KNKT) pun kalang kabut. Pasalnya merekalah yang seharusnya menyimpan informasi itu supaya tidak dapat diketahui oleh publik atau masyarakat luas.

Menarik untuk diikuti apakah rekaman percakapan berdurasi sekitar lima menit itu merupakan rekaman asli atau rekayasa. Untuk mengetahui jawabannya, hari senin kemarin (4/8/08 ) TVone mengundang perwakilan dari KNKT, dan pakar telematika Roy Suryo dalam acara dialog pagi Apa Kabar Indonesia. Dalam pemaparannya, Frans Wenas (KNKT), menuturkan bahwa dialah orang pertama yang mendengar hasil laboratorium di Amerika Serikat yang membuka kotak hitam pesawat Adamair yang naas itu. Kalo dibandingkan dengan rekaman yang beredar di masyarakat, beliau menyimpulkan bahwa terdapat kemiripan diantara keduanya. Akan tetapi beliau menjamin bahwa itu bukanlah asli dalam arti media rekaman dari black box. Sementara itu Roy Suryo “sang pakar telematika” menyebutkan bahwa untuk membuktikan rekaman itu asli atau rekayasa, bisa dengan membandingkan suara almarhum oleh keluarganya. Misalnya keluarga mempunyai data rekaman suara almarhum, maka itu akan sangat membantu untuk dianalisa. Akan tetapi pihak keluarga dikatakan Roy, keberatan untuk itu.

Terlepas dari apakah itu merupakan asli atau rekayasa, ketika mendengarkan rekaman itu saya menjadi merinding, betapa hebatnya kecelakaan yang terjadi, betapa menegangkannya suasana di dalam pesawat. Begitulah saat-saat yang harus dihadapi oleh para awak dan penumpang pesawat adamair dalam menghadapi maut. Yang tak kalah pentingnya, disaat ledakan terjadi, “Allohu Akbar” masih tetap terdengar. Jelas, bahwa mereka yang berada dalam pesawat benar-benar pasrah, dan tak ada lagi yang dapat menolong kecuali sang pemegang jiwa.

Cerita sang dosen,

Beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum kecelakaan pesawat adamair terjadi. Saya sempat mengambil mata kuliah tentang hukum udara dan ruang angkasa (lebih tepatnya hukum pengangkutan udara). Kebetulan, sang Dosen adalah lulusan Amerika yang sedikit banyak, punya cerita dibalik materi kuliah antara teori dan praktiknya di lapangan. Salah satu yang menarik adalah ketika ia bertanya, mengapa suatu pesawat bisa jatuh atau terjadi kecelakaan? Kontan saja para mahasiswa di kelas, punya jawaban yang beragam. Diantaranya :

Karena cuaca buruk pak,

Karena kesalahan manusia pak (human error)

Sudah takdirnya pak..

Musibah aja pak

Adanya kerusakan pada pesawatnya…

dst

Semua jawaban itu sangat mungkin benar dan terjadi. Terlepas dari kehendak yang kuasa, sebenarnya ada informasi yang mungkin tidak diketahui masyarakat luas. Bahwa kecelakaan disebabkan salah satunya oleh faktor bisnis.

Saya terkejut mendengar jawaban demikian (off the record aja) Lalu apa maksudnya, bagaimana hubungannya? Sang dosen menjelaskan (maaf kalo redaksinya tidak sama percis) bahwa, pesawat-pesawat untuk penerbangan komersil yang ada di Indonesia hampir semua buatan luar negeri (saya tidak mau menyebutkan negaranya). Nah setiap perusahaan penerbangan mempunyai kontrak bisnis dengan Pabriknya, baik untuk penyediaan spare part, pemeliharaan, konsultasi dan sebagainya. Untuk berbagai jasa tersebut perusahaan akan sangat dibebani biaya yang sangat tinggi. Hal itu akan berpengaruh dengan biaya atau tiket pesawat dan berbagai kebijakan keuangan perusahaan. Berbagai cara dilakukan perusahaan penerbangan untuk menekan biaya operasional dan pemeliharaan. Bahkan ada yang pesawatnya justru sewaan dari perusahaan lain. Karenanya jelas, akibat yang terjadi secara langsung atau tak langsung pesawat tidak benar-benar fit atau pesawat yang fit tapi terus-terusan di terbangkan yang ujung-ujungnya juga keteteran (maaf bahasa saya aja ini mah). Jadi, faktor bisnisnya menyangkut perusahaan jasa penerbangan dan perusahaan pabrik pesawatnya. Ada juga kemungkinan karena kontrak pemeliharaannya dengan perusahaan pabrik pembuat telah berakhir. Kepentingan bisnis, persaingan diantara merekalah yang akhirnya memakan korban, yakni para penumpang.

Kasus adamaair

Dari hasil rekaman kejadian di kokpit (pilot, co-pilot, dan operator menara) yang beredar di masyarakat, jelas bahwa ada alat yang tidak berfungsi dengan baik (navigasi). Nah hal itu membuktikan bahwa kecelakaan pesawat adamair salahsatu penyebabnya adalah karena ketidakberesan pada pesawat, dan itu berhubungan dengan kebijakan pemeliharaannya.

Dan jauh dari semua kejadian itu,

Semoga menjadi pelajaran bagi semua pihak. Jangan selalu menyalahkan cuaca, jangan hanya berlindung dari kata “takdir”, sebab ada hal-hal yang memang sebenarnya dapat dihindarkan dan mampu diminimalisir kemungkinannya oleh manusia sendiri.

Allohu A’lam Bisshowab

Bagaimana menurut anda?

(kalo ada kesalahan dalam cerita, bukan kesalahan dosen saya ya… itu semata-mata kesalahan saya aja, yang kadang-kadang suka ngantuk di kelas… hehe)…🙂


Responses

  1. ..aq juga dapet ‘transkrip’ percakapan pilot Adam Air yang katanya dari black box-nya.. Terlepas dari itu bener2 asli apa nggak, yang jelas, penyebab utama dari jatuhnya pesawat tersebut adalah akibat Gaya Gravitasi Bumi..:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: